ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI
PRODUKSI JAGUNG PIPILAN DI KECAMATAN HARAU
KABUPATEN LIMAPULUH KOTA
Neneng Purwati.
A.Md
NBP. 1111336019
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sumatera Barat dikenal
sebagai daerah agraris, sehingga pertanian merupakan salah satu bidang yang
potensial untuk dikembangkan dengan berbagai jenis tanaman yang dikelola oleh
petani. Salah satu tanaman yang diusahakan oleh petani Sumatera Barat terutama
di Kabupaten Limapuluh Kota adalah tanaman jagung, berupa jagung pipilan.
Jagung merupakan salah
satu bahan pangan penting kedua di Indonesia setelah beras. Bukan hanya sebagai bahan pangan, jagung juga
digunakan sebagai bahan baku industri serta bahan pakan ternak. Menurut Purwono dan Hartono (2007),
permintaan jagung sebagai bahan pangan dan pakan semakin meningkat sedangkan
ketersediannya terbatas. Untuk itu perlu
dilakukan upaya peningkatan produksi tanaman jagung secara berkala.
Potensi pasar tanaman
jagung semakin meningkat sejalan dengan semakin berkembangnya usaha peternakan
yang berdampak pada peningkatan permintaan jagung pipilan. Untuk pakan ternak
terutama unggas kebutuhan akan jagung mencapai 46 % dari keseluruhan
pakan. Selain bahan pakan ternak, saat
ini juga berkembang produk makanan yang memanfaatkan jagung pipilan sebagai
bahan baku industrinya. Dengan potensi
pasar tersebut membuka peluang bagi petani untuk semakin meningkatkan produksi
jagung.
Sumatera Barat sebagai salah satu daerah yang memiliki
potensi sebagai daerah pertanian, khususnya komoditi jagung memiliki peluang
yang cukup tinggi sebagai salah satu produsen jagung di Indonesia. Produksi jagung Sumatera
Barat mengalami
peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ketahun, dimana tahun 2010
produksi jagung Sumatera Barat mencapai 471.894 ton meningkat dibandingkan
tahun 2009 yang hanya 354.262 ton (BPS Indonesia, 2011). Hal ini diimbangi dengan peningkatan luas
lahan pertanian yang mencapai 71.116 ha pada tahun 2010.
Produksi
jagung Kabupaten Limapuluh Kota menunjukan produktifitas yang mengalami
peningkatan setiap tahunnya, dimana pada tahun 2010 produksi jagung mencapai
14.854,18 ton (Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Limapuluh Kota dalam BPS Kabupaten Limapuluh Kota,
2011). Peningkatan akan produksi jagung
tersebut masih belum mampu mengimbangi peningkatan populasi peternakan
khususnya unggas yang mencapai 10.941.948 ekor tahun 2010 (Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Limapuluh Kota dalam BPS Kabupaten Limapuluh Kota, 2011).
Tanaman jagung
sebagai usahatani yang pengusahaannya dilakukan secara intensif oleh petani
untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Namun demikian masih banyak
kendala-kendala yang dihadapi petani.
Persoalan-persoalan yang dihadapi petani berhubungan
dengan faktor-faktor produksi usahatani berupa modal, tenaga kerja, lahan, dan
manajemen usahatani. Pembiayaan pertanian juga menjadi kendala
melaratnya petani dan terlibat pada hutang.
Tekanan penduduk dan pertanian, dimana pertumbuhan penduduk tidak
sebanding dengan jumlah produksi tani (Mubyarto, 2009).
Permasalahan lain
dari pertanian itu sendiri, menyangkut penentu produktivitas di sektor
pertanian, antara lain: Faktor eksternal seperti musim kemarau yang menghambat
produktivitas pertanian. Faktor kedua adalah penyusutan luas lahan pertanian
yang diakibatkan adanya industrialisasi dan urbanisasi. Selanjutnya terbatasnya
pemanfaatan teknologi dan rendahnya kualitas SDM juga menjadi penentu
produktivitas pertanian (Nababan, 2009).
Tingkat
kesejahteraan petani sering dikaitkan dengan keadaan usahatani yang dicerminkan
oleh tingkat pendapatan petani. Tingkat pendapatan ini dipengaruhi oleh banyak
faktor, seperti faktor sosial, ekonomis dan agronomis. Salah satu faktor tersebut yang tidak kalah
pentingnya adalah penggunaan faktor produksi yang dihasilkan.
Konteks teori produksi berkaitan dengan pertanian,
faktor penting dalam pengelolaan sumberdaya produksi adalah faktor alam
(tanah), modal, dan tenaga kerja, selain itu juga faktor manajemen. Modal yang dimaksud adalah termasuk biaya
untuk pembelian pupuk dan benih (Mubyarto, 2009).
Berdasarkan beberapa faktor dan fenomena diatas,
peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Produksi Petani Jagung Pipilan Di Kecamatan Harau
Kabupaten Limapuluh Kota
1.2. Perumusan
Masalah
Produksi
jagung Daerah Kabupaten Limapuluh Kota menunjukan produktifitas yang mengalami
peningkatan setiap tahunnya, dimana pada tahun 2010 produksi jagung mencapai
14.854,18 ton. Peningkatan akan produksi
jagung tersebut masih tidak mampu mengimbangi peningkatan populasi peternakan
khususnya unggas yang mencapai 10.941.948 ekor tahun 2010 (Badan Pusat
Statistik Kabupaten Limapuluh Kota, 2011).
Jumlah
Produktivitas jagung untuk daerah Kabupaten Lima Puluh Kota dan Produktivitas
jagung di Indonesia dari tahun 2007
dengan luas lahan 3.208/ha produktivitasnya sebesar 4,96 ton/ha hingga
2010 dengan luas lahan 3.528/ha produktifitasnya sebesar 5, 40 ton/ha, berarti produktifitas jagung di Kabupaten
Lima Puluh Kota masih rendah ( BPS, 2011
).
Menurut
Website Resmi Sekretariat Negara Republik Indonesia (2011), untuk
dapat meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman pangan khususnya jagung
perlu dilakukan dengan pemberian teknologi, teknologi tersebut dapat dalam
bentuk :
1.
Fisik materi (bahan)
seperti varietas unggul, pupuk (formulasi pupuk/pupuk hayati), dan pestisida.
2.
Rekomendasi teknologi,
diantaranya pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, dan
penggunaan air.
3.
Teknologi proses,
seperti produksi benih, produksi pupuk hayati, dan produksi pestisida hayati
dan nabati.
4.
Rancang pupuk,
pembumbunan, penyiangan, pemipilan dan pengeringan.
Kurangnya
produksi jagung di Kecamatan Harau dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain
faktor-faktor yang terkait dengan usahatani jagung seperti lahan, modal, tenaga
kerja, dan manajemen. Dalam modal
mencakup kedalamnya biaya benih dan pupuk.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas perlu
dianalisis mengenai beberapa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi
jagung di Kecamatan Harau Kabupaten Limapuluh Kota melalui sebuah teknik
analisis yang jelas dan tepat.
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini dapat
dirinci sebagai berikut:
- Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi jagung pipilan di Kecamatan Harau Kabupaten Limapuluh Kota.
- Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh faktor-faktor lahan, tenaga kerja, benih, pupuk terhadap produksi jagung pipilan di Kecamatan Harau Kabupaten Limapuluh Kota.
1.4. Manfaat Penelitian
Dalam
pembuatan proposal penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, antara lain:
- Bagi petani jagung, dapat memberikan tambahan wawasan dalam menyikapi kemungkinan timbulnya permasalahan serta dalam pengambilan keputusan dalam usahatani jagung.
- Bagi Instansi terkait, dapat menjadi tambahan masukan dalam melengkapi bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pembangunan sektor pertanian tanaman pangan.
- Bagi peneliti, dalam penulisan proposal ini sebagai langkah awal dalam penerapan ilmu pengetahuan dan sebagai pengalaman yang dapat dijadikan referensi untuk selanjutnya.
1.5.
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah,
serta temuan penelitian sebelumnya dan kerangka pemikiran teoritis, maka dalam
penelitian ini dapat diajukan hipotesis sebagai berikut: Diduga bahwa faktor luas lahan, varietas benih,
jarak tanam dan jumlah tanaman batang per hektar, faktor biaya tenaga kerja dan
faktor biaya pembelian pupuk berpengaruh terhadap produksi jagung pipilan di
Kecamatan Harau Kabupaten Limapuluh Kota.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar