Halaman

Kamis, 04 Oktober 2012

BAB I


ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PRODUKSI JAGUNG PIPILAN DI KECAMATAN HARAU KABUPATEN LIMAPULUH KOTA





Neneng Purwati. A.Md
NBP. 1111336019





I.  PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
Sumatera Barat dikenal sebagai daerah agraris, sehingga pertanian merupakan salah satu bidang yang potensial untuk dikembangkan dengan berbagai jenis tanaman yang dikelola oleh petani. Salah satu tanaman yang diusahakan oleh petani Sumatera Barat terutama di Kabupaten Limapuluh Kota adalah tanaman jagung, berupa jagung pipilan.
Jagung merupakan salah satu bahan pangan penting kedua di Indonesia setelah beras.  Bukan hanya sebagai bahan pangan, jagung juga digunakan sebagai bahan baku industri serta bahan pakan ternak.  Menurut Purwono dan Hartono (2007), permintaan jagung sebagai bahan pangan dan pakan semakin meningkat sedangkan ketersediannya terbatas.  Untuk itu perlu dilakukan upaya peningkatan produksi tanaman jagung secara berkala.
Potensi pasar tanaman jagung semakin meningkat sejalan dengan semakin berkembangnya usaha peternakan yang berdampak pada peningkatan permintaan jagung pipilan. Untuk pakan ternak terutama unggas kebutuhan akan jagung mencapai 46 % dari keseluruhan pakan.  Selain bahan pakan ternak, saat ini juga berkembang produk makanan yang memanfaatkan jagung pipilan sebagai bahan baku industrinya.  Dengan potensi pasar tersebut membuka peluang bagi petani untuk semakin meningkatkan produksi jagung.
            Sumatera Barat sebagai salah satu daerah yang memiliki potensi sebagai daerah pertanian, khususnya komoditi jagung memiliki peluang yang cukup tinggi sebagai salah satu produsen jagung di Indonesia.  Produksi jagung Sumatera Barat mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ketahun, dimana tahun 2010 produksi jagung Sumatera Barat mencapai 471.894 ton meningkat dibandingkan tahun 2009 yang hanya 354.262 ton (BPS Indonesia, 2011).  Hal ini diimbangi dengan peningkatan luas lahan pertanian yang mencapai  71.116 ha pada tahun 2010. 
            Produksi jagung Kabupaten Limapuluh Kota menunjukan produktifitas yang mengalami peningkatan setiap tahunnya, dimana pada tahun 2010 produksi jagung mencapai 14.854,18 ton (Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Limapuluh Kota dalam BPS Kabupaten Limapuluh Kota, 2011).  Peningkatan akan produksi jagung tersebut masih belum mampu mengimbangi peningkatan populasi peternakan khususnya unggas yang mencapai 10.941.948 ekor tahun 2010 (Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Limapuluh Kota dalam BPS Kabupaten Limapuluh Kota, 2011).
Tanaman jagung sebagai usahatani yang pengusahaannya dilakukan secara intensif oleh petani untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Namun demikian masih banyak kendala-kendala yang dihadapi petani.  Persoalan-persoalan yang dihadapi petani berhubungan dengan faktor-faktor produksi usahatani berupa modal, tenaga kerja, lahan, dan manajemen usahatani.  Pembiayaan pertanian juga menjadi kendala melaratnya petani dan terlibat pada hutang.  Tekanan penduduk dan pertanian, dimana pertumbuhan penduduk tidak sebanding dengan jumlah produksi tani (Mubyarto, 2009).
Permasalahan lain dari pertanian itu sendiri, menyangkut penentu produktivitas di sektor pertanian, antara lain: Faktor eksternal seperti musim kemarau yang menghambat produktivitas pertanian. Faktor kedua adalah penyusutan luas lahan pertanian yang diakibatkan adanya industrialisasi dan urbanisasi. Selanjutnya terbatasnya pemanfaatan teknologi dan rendahnya kualitas SDM juga menjadi penentu produktivitas pertanian (Nababan, 2009).
Tingkat kesejahteraan petani sering dikaitkan dengan keadaan usahatani yang dicerminkan oleh tingkat pendapatan petani. Tingkat pendapatan ini dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti faktor sosial, ekonomis dan agronomis.  Salah satu faktor tersebut yang tidak kalah pentingnya adalah penggunaan faktor produksi yang dihasilkan.
Konteks teori produksi berkaitan dengan pertanian, faktor penting dalam pengelolaan sumberdaya produksi adalah faktor alam (tanah), modal, dan tenaga kerja, selain itu juga faktor manajemen.  Modal yang dimaksud adalah termasuk biaya untuk pembelian pupuk dan benih (Mubyarto, 2009). 
Berdasarkan beberapa faktor dan fenomena diatas, peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Petani Jagung Pipilan Di Kecamatan Harau Kabupaten Limapuluh Kota

1.2.  Perumusan Masalah
Produksi jagung Daerah Kabupaten Limapuluh Kota menunjukan produktifitas yang mengalami peningkatan setiap tahunnya, dimana pada tahun 2010 produksi jagung mencapai 14.854,18 ton.  Peningkatan akan produksi jagung tersebut masih tidak mampu mengimbangi peningkatan populasi peternakan khususnya unggas yang mencapai 10.941.948 ekor tahun 2010 (Badan Pusat Statistik Kabupaten Limapuluh Kota, 2011). 
Jumlah Produktivitas jagung untuk daerah Kabupaten Lima Puluh Kota dan Produktivitas jagung di Indonesia dari tahun 2007  dengan luas lahan 3.208/ha produktivitasnya sebesar 4,96 ton/ha hingga 2010 dengan luas lahan 3.528/ha produktifitasnya sebesar 5, 40 ton/ha,  berarti produktifitas jagung di Kabupaten Lima Puluh Kota  masih rendah ( BPS, 2011 ).
Menurut Website Resmi Sekretariat Negara Republik Indonesia (2011), untuk dapat meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman pangan khususnya jagung perlu dilakukan dengan pemberian teknologi, teknologi tersebut dapat dalam bentuk : 
1.            Fisik materi (bahan) seperti varietas unggul, pupuk (formulasi pupuk/pupuk hayati), dan pestisida.
2.            Rekomendasi teknologi, diantaranya pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, dan penggunaan air.
3.            Teknologi proses, seperti produksi benih, produksi pupuk hayati, dan produksi pestisida hayati dan nabati.
4.            Rancang pupuk, pembumbunan, penyiangan, pemipilan dan pengeringan.
Kurangnya produksi jagung di Kecamatan Harau dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain faktor-faktor yang terkait dengan usahatani jagung seperti lahan, modal, tenaga kerja, dan manajemen.  Dalam modal mencakup kedalamnya biaya benih dan pupuk.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas perlu dianalisis mengenai beberapa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi jagung di Kecamatan Harau Kabupaten Limapuluh Kota melalui sebuah teknik analisis yang jelas dan tepat.

1.3.  Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini dapat dirinci sebagai berikut:
  1. Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi jagung pipilan di Kecamatan Harau Kabupaten Limapuluh Kota. 
  2. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh faktor-faktor lahan, tenaga kerja, benih, pupuk terhadap produksi jagung pipilan di Kecamatan Harau Kabupaten Limapuluh Kota.

1.4.  Manfaat Penelitian
Dalam pembuatan proposal penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, antara lain:
  1. Bagi petani jagung, dapat memberikan tambahan wawasan dalam menyikapi kemungkinan timbulnya permasalahan serta dalam pengambilan keputusan dalam usahatani jagung. 
  2. Bagi Instansi terkait, dapat menjadi tambahan masukan dalam melengkapi bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pembangunan sektor pertanian tanaman pangan. 
  3.  Bagi peneliti, dalam penulisan proposal ini sebagai langkah awal dalam penerapan ilmu pengetahuan dan sebagai pengalaman yang dapat dijadikan referensi untuk selanjutnya.
1.5.  Hipotesis Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah, serta temuan penelitian sebelumnya dan kerangka pemikiran teoritis, maka dalam penelitian ini dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:  Diduga bahwa faktor luas lahan, varietas benih, jarak tanam dan jumlah tanaman batang per hektar, faktor biaya tenaga kerja dan faktor biaya pembelian pupuk berpengaruh terhadap produksi jagung pipilan di Kecamatan Harau Kabupaten Limapuluh Kota.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar