Halaman

Kamis, 04 Oktober 2012

BAB II


II.  TINJAUAN PUSTAKA
2.1.  Komoditi Jagung
Jagung (Zea mays L.) merupakan komoditas palawija, termasuk sub sektor tanaman pangan dan jagung adalah salah satu komoditas yang potensial yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan bahan baku pakan ternak (Sarasutha, 2002).
Sebagai bahan pangan, jagung mengandung; 70% pati, 10% protein, dan 5% lemak, sebagai bahan baku untuk pakan ternak, komposisi pakannya terdiri dari 46% jagung.
Tanaman jagung termasuk dalam famili rumput- rumputan dengan spesies Zea mays L.  Secara umum klasifikasi tanaman jagung adalah sebagai berikut (Purwono dan Hartono, 2007):
Kingdom         :  Plantae (tumbuh- tumbuhan)
Divisi               :  Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Subdivisi         :  Angiospermae (berbiji tertutup)
Kelas               :  Monocotyledone (berkeping satu)
Ordo                :  Graminae (rumput- rumputan)
Famili              :  Graminaceae
Genus              :  Zea
Spesies            :  Zea mays L.
Jagung termasuk tanaman berakar serabut dengan bentuk batang silinder dan beruas- ruas.  Daun tanaman jagung memanjang dan keluar dari buku- buku ruas batang.  Kelopak daun umumnya membungkus batang dan memeiliki ligula daun yang berbulu dan berlemak.  Bunga jagung merupakan bunga tidak lengkap, dimana bunga betina dan jantan terpisah akan tetapi masih dalam satu batang yang sama.  Penyerbukan dilakukan dengan bantuan angin dan terkadang serangga (Purwono, 2007).
Menurut Aksi Agraris Kanisius (AAK) (2000), syarat tumbuh dari tanaman jagung adalah sebagai berikut:
1.Iklim
Jagung baik tumbuh di daerah beriklim sedang hingga daerah beriklim sub tropis. Di daerah tropis juga banyak ditanam jagung. Jagung dapat tumbuh di daerah yang terletak anatara 0º - 50º Lintang Utara hingga 0º - 40º Lintang Selatan. Adapun faktor-faktor iklim yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman jagung adalah :
a.    Suhu (temperatur)
Temperatur yang dikehendaki tanaman jagung adalah antara 21ºC hingga 30ºC dengan temperatur optimum antara 23ºC sampai dengan 27ºC.  Pada proses perkecambahan benih memerlukan temperatur yang cocok, sebab kehidupan embrio dan pertumbuhan menjadi kecambah perlu suhu kira-kira 30ºC.
b.   Ketinggian tempat
Jagung dapat ditanam di Indonesia mulai dari dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 8.700 meter dari permukaan laut sampai daerah pegunungan yang memiliki ketinggian 1.000 – 1.800 meter dari permukaan laut.

c.       Intensitas penyinaran
Sinar matahari merupakan sumber energi dan sangat membantu dalam proses asimilasi daun. Pada proses asimilasi tersebut sinar matahari berperan langsung pada pemasakan makanan yang kemudian diedarkan ke seluruh bagian tubuh tanaman. Hasil dari asimilasi yang disalurkan ke bagian calon buah, menjadikan calon buah semakin cepat berkembang dan pengisisan buah pun makin bertambah baik, tongkol berisi sehingga hasil tanaman yang diharapkan dapat terwujud. Disamping itu penyinaran matahari juga berperan dalam pembentukan batang sehingga batang menjadi lebih kokoh.
d.      Curah hujan
Pada lahan yang tidak beririgasi, pertumbuhan tanaman ini memerlukan curah hujan ideal sekitar 85 – 200 mm/bulan dan harus merata.  Pada fase pembubunan dan pengisian biji tanaman jagung perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya tanaman jagung ditanam di awal musim hujan.
e.       Kemiringan tanah
Tanah dengan kemiringan kurang dari 80% dapat dilakukan penanaman jagung. Pada tingkat kemiringan tersebut sangat kecil terjadinya kemungkinan erosi tanah.  Namun air hujan yang berlebihan akan terbagi, sebagian meresap ke dalam tanah dan sebagian lain dialirkan ketempat yang lebih rendah.  Tanaman jagung yang ditanam di daerah kemiringan >80% sebaiknya dilakukan pembentukan teras terlebih dahulu.
2.          Tanah
Jenis tanah yang dapat ditanami jagung adalah:
a.          Tanah andosol
            Tanah ini berasal dari gunung berapi, maka disebut pula tanah gunung, warna kehitaman hingga kelabu.  Warna hitam disebabkan oleh kandungan bahan organik yang cukup tinggi atau yang disebut humus.
b.            Tanah latosol
Tanah Latosol adalah tanah liat, berwarna kemerahan, kekuningan atau kecoklatan karena banyak zat besi.  Tanah ini cocok untuk tanaman jagung selama keasaman tanah (pH) sesuai untuk pertumbuhannya.
c.             Tanah grumosol
Tanah yang tergolong tanah berat ini dapat juga untuk pertanaman jagung. Namun perlu diperhatikan keseimbangan antar pengairan dan draenase serta aerase, sebab tanah berat sulit untuk meloloskan air sehingga air mudah tergenang.  Hal ini akan berakibat kurang baik terhadap tanaman terutama pada tanaman yang masih muda.  Selain itu kandungan udara dalam tanah yang semakin kecil dapat menyebabkan tanaman kekurangan oksigen, akhirnya tanaman mudah layu.  Usaha pembuatan saluran pembuangan dapat mengurangi penggenangan air, sekaligus memperbaiki aerase tanah.
d.            Tanah berpasir
            Tanah ini dapat dikatakan memiliki prioritas yang tinggi atau mudah meloloskan air secara perlokasi (peresapan ke bawah). Untuk menghindari kehilangan air selama tanah dikerjakan, maka kadar hara tanaman dalam tanah berpasir harus cukup, sehingga dapat menghambat perembesan air.
            Pertumbuhan tanaman diperlukan tanah yang bersifat netral atau mendekati netral.  pH optimal tanah yang diperlukan untuk pertumbuhan jagung adalah 5,5 – 6,5. Tanah yang bersifat asam dengan pH <5,5 dapat dilakukan pengapuran (liming). Tanah dan tempat pertanaman hendaknya memperoleh sinar dan udara yang cukup.  Kesuburan tanah yang tinggi akan membantu dalam penyediaan hara. Hal ini perlu dijaga kestabilannya selama tanah masih diolah. Bila perlu sisa tanaman dikembalikan atau dilakukan penambahan pupuk sesuai dengan rekomendasi atau anjuran pemupukan
2.2.  Teori Produksi
Hatch dan Farhady dalam Sugiyono (2009) mendefenisikan pengertian produksi adalah hasil akhir dari proses atau aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan beberapa masukan atau input. Dengan pengertian ini dapat dipahami bahwa kegiatan produksi adalah mengkombinasi berbagai input atau masukan untuk menghasilkan output.  Hubungan teknis antara input dan output tersebut dalam bentuk persamaan, tabel atau grafik merupakan fungsi produksi, Jadi, fungsi produksi adalah suatu persamaan yang menunjukkan jumlah maksimum output yang dihasilkan dengan kombinasi input tertentu. 
Hubungan antara jumlah output (Q) dengan sejumlah input yang digunakan dalam proses produksi (X1, X2, X3,……Xn) secara matematis dapat ditulis sebagai berikut: Q = f (X1 X2 X3............. Xn).
 Keterangan: Q = output, X = input.  Berdasarkan fungsi produksi di atas maka akan dapat diketahui hubungan antara input dengan output, dan juga akan dapat diketahui hubungan antar input itu sendiri. Apabila input yang dipergunakan dalam proses produksi hanya terdiri atas modal (K) dan tenaga kerja (L) maka fungsi produksi yang dimaksud dapat diformulasikan menjadi: Q = f (K, L)
Keterangan:
Q = output
K = input modal
L = input tenaga kerja
Fungsi produksi di atas menunjukkan maksimum output yang dapat diproduksi dengan menggunakan kombinasi alternatif dari modal (K) dan tenaga kerja (L) (Soekartawi, 2002).

2.3.  Fungsi Produksi
Teori ekonomi, merupakan setiap proses produksi mempunyai landasan teknis yang disebut fungsi produksi.  Fungsi produksi adalah suatu fungsi atau persamaan yang menunjukkan hubungan fisik atau teknis antara faktor-faktor yang dipergunakan dengan jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu, tanpa mempehatikan harga, baik harga faktor-faktor produksi maupun harga produk (Nababan, 2009).
Secara matematis fungsi produksi tersebut dapat dinyatakan: Y = f (X1, X2, X3, ........ ,Xn) Dimana Y = tingkat produksi atau output yang dihasilkan, dan X1, X2, X3, ........ ,Xn adalah berbagai faktor produksi atau input yang digunakan. Fungsi ini masih bersifat umum, hanya bisa menjelaskan bahwa produk yng dihasilkan tergantung dari faktor-faktor produksi yang dipergunakan, tetapi belum bisa memberikan penjelasan kuantitatif mengenai hubungan antara produk dan faktor produksi tersebut (Soekartawi, 1999).  Untuk dapat memberikan penjelasan kuantitatif, fungsi produksi tersebut harus dinyatakan dalam bentuknya yang spesifik antara lain:
a) Y = a + bX (fungsi linear)
b) Y = a +bX – cX2 (fungsi kuadratis)
c) Y = aX1 bX2 c X3
Menurut Nababan (2009), sifat fungsi produksi diasumsikan tunduk pada suatu hukum yang disebut The Law of Diminishing Return atau hukum kenaikan hasil berkurang.  Hukum ini menyatakan bahwa jika penggunaan satu macam input ditambah sedang input-input lain tetap maka tambahan output yang dihasilkan dari setiap tambahan satu unit input yang ditambahkan tadi mula-mula naik tetapi kemudian seterusnya menurun jika input tersebut terus ditambahkan.

2.4. Faktor Produksi Usahatani Jagung
Cepat atau lambatnya tingkat kepuasan keinginan manusia itu dapat dipenuhi tergantung pada jumlah dan mutu sumber-sumber daya yang dapat digunakan. Sumber-sumber daya (faktor produksi) diartikan sebagai sumber-sumber yang mampu menghasilkan barang-barang dan jasa untuk memuaskan keinginan.  Faktor produksi tersebut dapat berupa benda-benda yang disediakan oleh alam atau diciptakan oleh manusia yang dapat digunakan untuk memproduksi barang-barang atau jasa-jasa (Sugiarto, dkk, 2002).
Soekartawi dalam Togatorop, R.B (2010), mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan faktor produksi adalah semua korbanan yang diberikan pada tanaman agar tanaman tersebut mampu tumbuh dan menghasilkan dengan baik.  Faktor produksi dikenal pula dengan istilah input dan korbanan produksi.  Faktor produksi memang sangat menentukan besar kecilnya produksi yang diperoleh.  Faktor produksi yang sudah kita kenal adalah lahan, modal, tenaga kerja dan aspek manajemen merupakan faktor produksi yang terpenting.
Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dibedakan menjadi 2 kelompok (Soekartawi, 2002), antara lain:
1.      Faktor biologi, seperti lahan pertanian dengan macam dan tingkat kesuburannya, bibit, varietas, pupuk, obat-obatan, gulma, dan sebagainya.
2.      Faktor-faktor sosial ekonomi, seperti biaya produksi, harga, tenaga kerja, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, resiko, dan ketidakpastian, kelembagaan, tersedianya kredit dan sebagainya. 
2.4.1. Lahan
Tanah sebagai salah satu faktor produksi merupakan pabrik hasil-hasil pertanian yaitu tempat dimana produksi berjalan dan darimana hasil produksi ke luar.  Faktor produksi tanah mempunyai kedudukan paling penting.  Hal ini terbukti dari besarnya balas jasa yang diterima oleh tanah dibandingkan faktor-faktor produksi lainnya (Mubyarto dalam Togatorop, R.B., 2010).
Penggunaan tanah baik secara permanen ataupun siklus terhadp suatu kumpulan sumberdaya alam dan sumberdaya buatan yang secara keseluruhannya disebut lahan dengan tujuan untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan baik berupa kebendaan maupun spiritual maupun kedua-duanya.  Berarti dengan melihat pola penggunaan tanahnya, maka dapat mengetahui aktivitas ekonomi yang menonjol di wilayah tersebut dan budaya masyarakatnya.
Berlainan dengan faktor produksi lainnya, tanah merupakan faktor produksi yang persediannya tidak dapat ditambah lagi bila kekurangan, kecuali bila kita membeli atau menyewanya.  Tanah beserta kekayaan alam yang dikandungnya seperti halnya mineral, air dan sebagainya mempunyai sifat penawaran yang tetap (tidak dapat ditambah lagi), sedangkan permintaan akan tanah terus menerus meningkat dari waktu ke waktu  baik karena alasan kenaikan harga barang-barang pertanian, kenaikan harga mineral serta barang-barang industri yang memakai bahan mentah dari tanah, maupun karena pertambahan jumlah penduduk.  Kaitannya dengan permintaan akan barang-barang pertanian, perbedaan kesuburan tanah akan menentukan perbedaan nilai sewanya, sebaliknya dalam kaitannya dengan lokasi, dikenal nilai lokasi sewa tanah.  Tanah yang lokasinya lebih strategis akan memperoleh nilai yang lebih tinggi (Sugiarto, dkk, 2002).
2.4.2. Modal
Modal meliputi segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia dan digunakan untuk memproduksi barang-barang dan jasa yang mereka butuhkan.  Sebagai contoh sistem pengairan, jaringan jalan raya, mesin-mesin, bangunan pabrik, pertokoan, alat-alat pengangkutan, dan sebagainya.  Perbedaan antara modal dengan uang adalah uang seringkali disebut sebagai modal bagi seseorang dalam melakukan usaha produksinya.  Tetapi modal tidak hanya terpaku pada uang saja, melainkan meliputi banyak benda yang dapat digunakan oleh manusia dalam memproduksi produk yang dibutuhkannya.  Di sisi lain uang secara sendiri tidak dapat menghasilkan apa-apa.  Fungsi uang adalah sebagai alat penukar untuk memudahkan terjadinya pertukaran diantara barang-barang dan atau jasa.  Dengan demikian modal adalah seluruh aktiva perusahaan yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan (Sugiarto, dkk, 2002).
Dalam kegiatan proses produksi pertanian, maka modal dibedakan menjadi dua macam yaitu modal tetap dan modal tidak tetap.  Perbedaan tersebut disebabkan karena ciri yang dimiliki oleh model tersebut.  Faktor produksi seperti tanah, bangunan, dan mesin-mesin sering dimasukkan dalam kategori modal tetap.  Dengan demikian modal tetap didefinisikan sebagai biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi yang tidak habis dalam sekali proses produksi tersebut.  Peristiwa ini terjadi dalam waktu yang relatif pendek dan tidak berlaku untuk jangka panjang (Soekartawi dalam Togatorop, R.B, 2010).  Sebaliknya modal tidak tetap atau modal variabel adalah biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi dan habis dalam satu kali dalam proses produksi tersebut, misalnya biaya produksi yang dikeluarkan untuk membeli benih, pupuk, obat-obatan, atau yang dibayarkan untuk pembayaran tenaga kerja.  Besar kecilnya modal dalam usaha pertanian tergantung dari:
1). Skala usaha, besar kecilnya skala usaha sangat menentukan besar-kecilnya  modal yang dipakai makin besar skala usaha makin besar pula modal yang dipakai.
2).  Macam komoditas, komoditas tertentu dalam proses produksi pertanian juga menentukan besar-kecilnya modal yang dipakai.
3). Tersedianya kredit sangat menentukan keberhasilan suatu usaha tani (Soekartawi, 2002).
 2.4.3.  Tenaga kerja
Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang perlu diperhitungkan dalam proses produksi dalam jumlah yang cukup, bukan saja dilihat dari tersedianya tenaga kerja saja tetapi kualitas dan macam tenaga kerja perlu juga diperhatikan. Jumlah tenaga kerja ini masih banyak dipengaruhi dan dikaitkan dengan kualitas tenaga kerja, jenis kelamin, musim dan upah tenaga kerja. Bila kualitas tenaga kerja, ini tidak diperhatikan, maka akan terjadi kemacetan dalam proses produksi (Soekartawi, 2002).         
Manusia merupakan faktor produksi utama yang menentukan kemakmuran suatu bangsa. Alasannya, alam tidak ada artinya kalau tidak ada SDM yang mengelolanya, sehingga bermanfaat bagi kehidupan. Alokasi SDM yang efektif adalah awal pertumbuhan ekonomi.  Setelah ekonomi tumbuh, akumulasi modal baru mulai dibutuhkan untuk menjaga agar ekonomi tetap tumbuh.  Dengan kata lain, alokasi SDM yang efektif merupakan syarat perlu bagi pertumbuhan ekonomi (Nababan, 2009).
            Menurut Nababan (2009), Tenaga kerja yaitu sejumlah penduduk yang dapat digunakan dalam proses produksi, tetapi termasuk juga kemahiran yang mereka miliki yang merupakan suatu elemen pendidikan yang membantu masyarakat dengan jalan menyediakan suatu kombinasi energi fisik dan intelegensi bagi suatu proses produksi.
            Pengertian tenaga kerja adalah merupakan kapasitas buruh untuk bekerja bukannya dalam arti keahlian yang produktif, melainkan reaksi terhadap kesempatan ekonomi dan ketersediaannya untuk menjalani perubahan ekonomi.  Faktor tenaga kerja ini akan berperan dalam membantu membuka sumber yang cukup besar dalam kuantitas, tetapi rendah dalam kualitas karena untuk menampung jumlah tenaga kerja yang besar dibutuhkan lapangan pekerjaan yang luas pula.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan tenaga kerja, antara lain sebagai berikut:
a.    Tingkat upah
Tingkat upah akan mempengaruhi tinggi rendahnya biaya produksi perusahaan.  Kenaikan tingkat upah akan mengakibatkan kenaikan biaya produksi, yang selanjutnya akan meningkatkan harga per unit produk yang dihasilkan.  Apabila harga per unit produk yang dijual ke konsumen naik, reaksi yang biasanya timbul adalah mengurangi pembelian atau bahkan tidak lagi membeli produk tersebut.  Kondisi ini memaksa produsen untuk mengurangi jumlah produk yang dihasilkan, yang selanjutnya juga dapat mengurangi akibat perubahan skala produksi disebut efek skala produksi.
Suatu kenaikan upah dengan asumsi harga barang-barang modal yang lain tetap, maka pengusaha mempunyai kecenderungan untuk menggantikan tenaga kerja dengan mesin. Penurunan jumlah tenaga kerja akibat adanya penggantian dengan mesin disebut efek substitusi (Nababan, 2009).
b.    Teknologi
Penggunaan teknologi dalam perusahaan akan mempengaruhi berapa jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan.  Kecanggihan teknologi saja belum tentu mengakibatkan penurunan jumlah tenaga kerja, karena dapat terjadi kecanggihan teknologi akan menyebabkan hasil produksi yang lebih baik, namun kemampuannya dalam menghasilkan produk dalam kuantitas yang sama atau relatif sama.  Untuk itu yang lebih berpengaruh dalam menentukan permintaan tenaga kerja adalah kemampuan mesin untuk menghasilkan produk dalam kuantitas yang jauh lebih besar dari pada kemampuan manusia. Minsalnya, mesin huller (penggilingan padi) akan mempengaruhi permintaan tenaga kerja untuk menumbuk padi.
c.    Produktivitas tenaga kerja
Berapa jumlah tenaga kerja yang diminta dapat ditentukan oleh beberapa tingkat produktivitas dari tenaga kerja itu sendiri.  Apabila untuk menyelesaikan suatu proyek tertentu dibutuhkan 30 karyawan dengan produktivitas standar yang bekerja selama 6 bulan. Namun dengan karyawan yang produktivitasnya melebihi standar, proyek tersebut dapat diselesaikan oleh 20 karyawan dengan waktu 6 bulan. (Nababan, 2009).
Menurut balai pengembangan produktivitas tenaga kerja dipengaruhi oleh enam hal, yaitu sikap kerja, perbaikan tingkat keterampilan, hubungan tenaga kerja dan pimpinan, manajemen produktivitas, efisiensi tenaga kerja, kewira swastaan.  Disamping hal itu bahwa tinggi rendahnya produktivitas tenaga kerja juga dipengaruhi oleh sarana produksi, tingkat penghasilan, jaminan sosial, kesempatan berprestasi, teknologi dan iklim kerja.  Apabila sarana produksi yang digunakan tidak baik kadang-kadang dapat menimbulkan pemborosan bahan yang dipakai.  Begitu juga dengan yang lainnya seperti pada jaminan sosial yang dapat meningkatkan semangat kerja.
d.   Kualitas tenaga kerja
Pembahasan mengenai kualitas ini berhubungan erat dengan pembahasan mengenai produktivitas.  Karena dengan tenaga kerja yang berkualitas akan menyebabkan produktivitasnya meningkat.  Kualitas tenaga kerja ini tercermin dari tingkat pendidikan, keterampilan, pengalaman, dan kematangan tenaga kerja dalam bekerja (Nababan, 2009).
e.    Fasilitas modal
Dalam prakteknya faktor-faktor produksi, baik sumber daya manusia maupun yang bukan sumber daya manusia, seperti modal tidak dapat dipisahkan dalam menghasilkan barang atau jasa.  Pada suatu industri, dengan asumsi faktor-faktor produksi yang lain konstan, maka semakin besar modal yang ditanamkan akan semakin besar permintaan tenaga kerja.  Minsalnya, dalam suatu industri rokok, dengan asumsi faktor-faktor lain konstan, maka apabila perusahaan menambah modalnya, maka jumlah tenaga kerja yang diminta juga bertambah (Nababan, 2009).  
2.4.4.Manajemen
Usaha tani modern, peranan manajemen sangat penting dan strategis, yaitu sebagai seni untuk merencanakan, mengorganisasi dan melaksanakan serta mengevaluasi suatu proses produksi, bagaimana mengelola orang-orang dalam tingkatan atau tahapan proses produksi (Soekartawi, 2002).  Proses produksi ini melibatkan sejumlah orang (tenaga kerja) dari berbagai tingkatan, maka manajemen berarti pula bagaimana mengelola orang-orang tersebut dalam tingkatan atau dalam tahapan proses produksi (Soekartawi, 2002). Faktor manajemen dipengaruhi oleh: (1) tingkat pendidikan; (2) Pengalaman berusahatani; (3) skala usaha; (4) besar kecilnya kredit dan (5) macam komoditas.
Menurut Soekartawi (2002), perencanaan usahatani akan menolong keluarga tani di pedesaan. Diantaranya pertama, mendidik para petani agar mampu berpikir dalam menciptakan suatu gagasan yang dapat menguntungkan usahataninya. Kedua, mendidik para petani agar mampu mangambil sikap atau suatu keputusan yang tegas dan tepat serta harus didasarkan pada pertimbangan yang ada. Ketiga, membantu petani dalam memperincikan secara jelas kebutuhan sarana produksi yang diperlukan seperti bibit unggul, pupuk dan obat-obatan. Keempat, membantu petani dalam mendapatkan kredit utang yang akan dipinjamnya sekaligus juga dengan cara-cara pengembaliannya. Kelima, membantu dalam meramalkan jumlah produksi dan pendapatan yang diharapkan. Perencanaan input-input dan sarana produksi mencakup kegiatan mengidentifikasi input-input dan sarana produksi yang dibutuhkan, baik dari segi jenis, jumlah dan mutu atau spesifikasinya (Soekartawi dalam Togatorop, R.B, 2010).
Faktor produksi tersebut diatas berpengaruh pada biaya produksi dan pada akhirnya akan mempengaruhi penerimaan usahatani.  Penerimaan usahatani akan terkait dengan jumlah produk yang dihasilkan dengan harga komoditas. Salah satu yang menentukan komoditas adalah jumlah permintaan dan penawaran harga produk dan faktor produksi yang sering mengalami perubahan akan berpengaruh terhadap tingkat keuntungan yang diterima.
Mengamati pengaruh dari beberapa faktor produksi tertentu terhadap (output) secara  keseluruhan dalam keadaan sebenarnya adalah tidak mungkin.  Oleh karena itu hubungan antara faktor produksi dengan hasil produksi (intput) perlu disederhanakan dalam suatu bentuk yang disebut model. Untuk mendapatkan model suatu bentuk fungsi produksi yang baik, hendaknya fungsi tersebut :(1) dapat dipertangungjawabkan; (2) mempunyai dasar yang logis secara fisik maupun ekonomik; (3) mudah dianalisa; dan (4) mempunyai implikasi ekonomi (Soekartawi, 2002).
2.5.  Potensi Usahatani Jagung
Usahatani merupakan kegiatan yang memproduksi produk di bidang pertanian yang terdapat biaya-biaya yang dikeluarkan dan memperoleh penerimaan dari hasil penjualan produk tersebut.  Dimana dalam menjalankan usahatani tersebut dibutuhkan beberapa faktor produksi.  Usahatani jagung mempunyai potensi untuk menghasilkan tingkat pendapatan yang cukup tinggi.  Hal ini disebabkan tanaman jagung merupakan tanaman pangan kedua di Indonesia setelah padi.  Selain itu kebutuhan jagung juga semakin meningkat karena tidak hanya digunakan untuk konsumsi tetapi juga untuk pakan ternak. Ditinjau dari segi budaya, tanaman jagung tidak membutuhkan perawatan khusus, sehingga biaya produksinya juga relatif lebih murah (Togatorop, R.B.,2010).
Prospek usaha tani jagung cukup cerah bila dikelola secara intensif dan komersial berpola agribisnis.  Permintaan pasar dalam negeri dan berpeluang ekspor komoditas jagung cenderung meningkat dari tahun ketahun, baik untuk memenuhi kebutuhan pangan maupun non pangan.  Usaha tani di Kecamatan Harau merupakan suatu usaha dibidang pertanian tanaman pangan yang menjadi pilihan bagi petani karena dianggap sebagai komoditas yang berpotensi dan cocok dengan kondisi alam yang ada.
Produktivitas jagung di Kecamatan Harau adalah salah satu yang memiliki produktifitas cukup tinggi.  Dengan demikian untuk lebih jelas nya dapat dilihat dari tabel 1 di bawah ini.  Sedangkan Rata-rata harga produk palawija yang di terima petani di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 1. Luas panen, produktivitas dan produksi jagung di Kabupaten Lima Puluh Kota.
Kecamatan/Sub District
Tanam/
Luas panen/

Produktivitas/
Planted
Area of
Luas panen
Productivity
(Ha)
Harvest
(Ha)
(Ton/Ha)

(Ha)


1

2
3
4
5
1.   Payakumbuh

760,00
666,00
3.639,41
5,46
2.   Akabiluru

218,00
234,00
1.306,89
5,59
3.   Luak

63,00
110,00
584,44
5,31
4.   Lareh Sago Halaban

465,00
408,00
2.166,49
5,31
5.   Situjuah Limo Nagari

243,00
192,00
1.008,26
5,25
6.   Harau

761,00
153,00
808,68
5,29
7.   Guguak

217,00
251,00
1.293,61
5,15
8.   Mungka

434,00
456,00
2.492,46
5,47
9.   Suliki

108,00
108,00
586,80
5,43
10. Bukik Barisan

45,00
49,00
257,47
5,25
11. Gunung Omeh

108,00
122,00
642,27
5,26
12. Kapur IX

96,00
8,00
40,42
5,05
13. Pangkalan Koto Baru

10,00
4,00
19,85
4,96
Jumlah
2010
3.528,00
2.761,00
14.847,05
5,38

2009
3.385,00
2.139,00
12.431,86
5,81

2008
2.947,00
2.294,00
14.730,10
6,42

2007
3.188,00
2.025,00
13.671,78
6,75

2006
3.093,00
1.999,00
11.544,00
5,77
Sumber: BPS Kabupaten Lima Puluh Kota, 2011.

Dari tabel diatas terlihat jelas bahwa produktivitas jagung di Kecamatan Harau sangat cukup tinggi dengan luas panen 808,68/ha dan luas produktivitas sebanyak 5,29 ton/ha.  Dengan demikian produksi akan maksimal pendapatan meningkat.  Selain itu usaha ini didukung juga dengan peluang pasar yang sangat cerah.




Tabel 2.  Rata-rata harga produk palawija yang di terima petani di Kabupaten Lima Puluh Kota.
Kecamatan/Sub District
Jagung
Jagung
Kacang tanah
Ketela
Ketela
muda/
Pipilan/
blm di kupas/
Pohon
Rambat
Corn
Maize
Peanuts
(1 kg)
(1 kg)
(1 kg)
(1 kg)
(1 kg)


1
2
3
4
5
6
1.   Januari

675
2.225
1.050
1.500
2.   Februari

750
2.413
1.050
2000
3.   Maret

750
2.488
1.050
2000
4.   April

750
2.538
1.050
2000
5.   Mei

750
2.650
1.050
2000
6.   Juni

750
2.600
1.050
2000
7.   Juli

675
2.625
1.050
2000
8.   Agustus

675
2.525
1.050
2000
9.  September

750
2.650
1.050
2000
10. Oktober

750
2.575
1.050
2000
11. November

800
2.613
1.050
2000
12. Desember

800
2.613
1.050
2000
Jumlah
2010
740
2.543
1.050
1.958

2009
646
2.178
943
1.083

2008
643
2.519
986
1.000

2007
463
1.651
637
1.042

2006
1.434
683
1.171
Sumber: BPS Kabupaten Lima Puluh Kota, 2011

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa harga jagung di Kabupaten Lima Puluh Kota dari bulan ke bulan mengalami peningkatan harga.  Dengan demikian terlihat jelas bahwa permintaan jagung pipilan akan terus semakin meningkat dan semakin bertambah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar